Rabu, 26 Desember 2012

Finished_Tugas Akhir (TA) 'story'

Posted by Nis |

Bismillah...,
Puji syukur senantiasa teruntuk Allah SWT, Yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha segala-galanya....

Wiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggggggggggggg,,.... cetarrr,, cetarrr,. Cetarrrr.... Kembang api warna-warni serasa menghias langit hati ini, setelah beberapa saat yang lalu dilanda gelap gulita. Ada apakah gerangan.??

Begini ceritanya...,

(20 Des ’12). Sudah ada kencan dengan Pak Joko untuk bimbingan hari ini. Bimbingan ke-2, setelah bimbingan pertama entah beberapa hari sebelumnya, kalo’ gak salah tanggal 13 apa 14 gitu. Bimbingan pertama dulu tentang BAB I, dan yang harus diperbaiki adalah pada bagian rumusan masalah dan tujuannya. Setelah nglembur semalam, ditambah pagi-nya (terpaksa gak subuhan di masjid), mana harus nge-print dulu lagi. Lewat setengah jam dari jam janjian, yaitu jam setengah sepuluh-an, lari-lari dari hall kampus ke akademik. Dengan agak ngos-ngos’an, “Pak, ini pak.. Langsung sampai bab 4 ya Pak”. Pak Joko memeriksa. Tiba-tiba Pak Kardiyono, “Pak, Nis mau nikah hlo Pak..!”. Pak Joko, “Yho,Nis??!, kapan.??” Antusias. Saya hanya “MasyaAllah...” sambil nyengir manis khas saya :D. Pak Joko membuka lembaran2 TA saya, dan ketika sampai di Bab 3, “Hla ini kertas kerjanya mana.?”. Saya, “O, harus pake’ itunya ya pak.?”. Beliau “Iya, kamu rekap. Ambil sampel, satu bulan aja, kamu rekap”.

Saya merapikan lagi lembaran-lembaran TA, Pak Joko Bilang, “Kamu masih ngambil mata kuliah lagi gak semester besok? #saya jawab ‘gak’. Ini, kamu meskipun ini-mu lolos, tetep gak bisa wisuda sekarang, kan.? Wisuda lagi kapan Pak (ke arah Pak Kar).” #Hweee???! Saya, “Koq gak bisa Pak.?” #shyock. Beliau, “Ya kan ini kamu masih nunggu nilainya keluar toh?”. Pak Kar, “wisuda lagi April”. Saya, “Hwahhh, lama buanget Pak.” Pak Joko, “Ya kan kamu bisa nunggu di Takmir...”. #Dalam hati, ‘plisss deh pak..!”. Pak Joko, “Lha ini kamu mesti nunggu nilainya, gak bisa daftar. Emang Yudhisium kapan Pak? (tanya ke Pak Kar)”. Pak Kar, “tanggal 26”. Pak Joko, “Pendaftaran Kompre kapan?”. Pak Kar, “tanggal 26”. Pak Joko nengok ke arah saya, kemudian kata beliau, “Ya sudah, ini-mu cepet diselesaikan.!”. Saya, “Ya, Pak.” HHHHhhhh,,,tersenyum lega.

Saya masih merapikan TA saya, Pak Joko, “Kalo ngasih undangan tuh jangan ‘bagian akademik’ gitu..”. Saya, “Kenapa Pak.?” #bingung. Pak Joko, “Iya, kalo’ ngasih undangan tuh satu-satu, Pak Kardiyono, Pak Ponijo,. Gitu.!”. Pak Kar menambahi “Iya, gitu Nis..!”. Saya baru ngeh, “O.., MasyaAllah... Siap Pak..”. #HHemm....

“Pak, ini tinggal kertas kerjanya aja kan Pak.?”, saya memastikan. Pak Joko, “Iya”. “Itu sama kaya’ yang di asrama itu gak ya..?, Pak Joko, masih di sini kan Pak?”. Beliau, “Gak tahu,. Sapa tahu nanti entah ke kamar mandi, ke kantin, ke kelas.. ”. #Pliss deh Pak. Saya, “bapak, tunggu sebentar ya Pak, saya ambil itunya di asrama. Sebentar aja kog Pak.” Lari keluar. Terdengar suara Pak Joko bertanya, kurang jelas. Balik lagi, “kenapa pak.?”. Beliau, “kemana.? Mau ngambil undangan.??”. #Haishh. Lari-lari,. Agak malu kalo’ lari-lari terus, jalan cepat aja deh. Jalan cepat, satu langkah 2 meter.. #Lebay. Ngos-ngos’an. Dan ternyata yang dimaksud Pak Joko bukan itu. Gakpapa lah, udah dapat gambaran. Hhhhemmmm...alhamdulillah.

----------

Kemarin, (21 Des ’12) jam 2-an siang, di ruang akademik. “Ngopo Nis.??”, Pak Kardiyono menyambut saya. “He..he...”, saya hanya menjawab dengan cengiran manis. Langsung mengarah kepada yang dituju, yaitu Pak Joko Susilo, SE.,M.Si selaku pembimbing TA(Tugas Akhir) saya. “Ini pak, kertas kerjanya”, saya menyodorkan lembaran Bab III dari TA, hasil kebutan pagi tadi. Pak Joko manggut-manggut,. “Terus, kesimpulannya apa.?”. Saya mengambil Bab IV yang masih di dalam tas. Dilihat sekilas oleh beliau. Kemudian...”Besok kamu ujian ya..”. #Hwaaa.??? Sebenarnya saya sudah menduganya, tapi gak tahu kenapa, masih juga bisa terkejut. Saya menjawab, “Hwah., cepet banget pak.?”. “Hla mau wisuda kapan.? Besok kamu ujian..!”, Pak Joko mengulangi, dengan kalimat perintah. “Siapp...!!!!”, Pak Kardiyono menyahut. Dan akhirnya, “Iya Pak, InsyaAllah.. Besok jam berapa Pak?”. Beliau menjawab, “Jam sembilan..., minta berita acara dulu sama Pak Kardiyono.!”. Saya agak bingung, menoleh kepada yang namanya disebut. Beliau nampak sedang mencarikan sesuatu, setelah ketemu, menyodorkannya padaku. Selembar kertas, yang isinya adalah lembar penilaian, dan sebagai penentuan apakah Lulus ujian TA atau tidak.

Saat sedang mengisi lembar berita acara tersebut, datanglah pak dosen paling asik se D3, Pak Yahya. Beliau adalah dosen matakuliah Lab.Akuntansi Manajemen saya di semester ini. “Maap ya neng,. Kemarin..”, #saat ujian matakuliah beliau kemarin ada kesalahan teknis, sehingga menyebabkan harus ngulang deh, ujian lagi. “Kemarin gimana.??”, beliau menambahkan. Saya, “Hla kirain kemarin tuh, sama kaya yang dulu itu pak. Kan saya tanya sama Aisyah yang didepan saya ‘ini bunganya berapa Is?’ katanya sama kaya yang kemarin. Ya sudah..”. “Bukan bunga,. Referensi Growth.”, beliau membetulkan. Saya, “Hee... iya, maksud saya itu pak”. Pak Yahya, “Sudah siap ujian.?”. Pak Joko menyahut,. “O,,, Nis_ ini ujian apa aja, kapan aja siap Pak..!”. Saya tersenyum...

Menyusul Pak Arif(dosen makul KWU semester 1 dulu), meramaikan akademik siang itu. Saya dan Pak Kardiyono anteng sebagai pendengar. Hmmm,. Saatnya pamit. “Pak Joko, pamit...”. Pak Joko, “Ya.. hla Pak Arif, Mbak Amroh, pak Kardiyono, Pak Yahya? Gak dipamiti.?”. Saya trsenyum, “Mari... Bapak-bapak,. Mbak Amroh... pamit...”. Kaburrr.... Suara Pak Joko masih terdengar,. “jangan lupa undangannya lho..!”.

Hwahhh... besok ujian TA,.. #masih Shyock. Telpon Ibuk,. “Buk, besok aku ujian TA.. deg-deg’an...”. Ibu’, “yho.. rapopo, ndang rampung.. Tak do’akan teruss.. Yang penting kamu bla...bla..bala... #petuah2”. Hhhmmmm alhamdulillah, agak tenang.

----------------
Kembali ke hari ini (22 Des ’12). Pagi ini masih harus melengkapi pernak-pernik TA. Dari daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, kata pengantar, de-el-el, sampai daftar pustaka. Ngebut dari subuh. Jam 8 kurang... saatnya nge-print. Troble2 sedikit, nengok jam,. Haduhh! Jam setengah sembilan lewat. #Ujian jam 9. Mana masih kurang lembar pengesahan lagi... Ke kampus, bagian akademik. Ada mbak Amroh, “Mbak, Pak Joko udah datang.?”. Mbak Amroh, “Belum. Kenapa.?”. Saya, “Ini, mau ujian TA... Eh, mbak, ada format lembar pengesahan gak?”. Mbak Amroh bingung, jawabnya, “gak ada..”. #Panik. Sebenarnya rencananya adalah mau pinjem contoh TA tahun kemarin di perpus D3, tapi Pak Mus(penanggungjawabnya) belum datang. Mana ini kan, hari Sabtu, jangan-jangan beliau libur..

Mbak Amroh mengambil sesuatu dari lemari, apakah itu.? Ternyata adalah TA anak angkatan 2010, perbankan. Alhamdulillah........

Dengan cepat, keluarkan netbook dari tas, nyalin. Dan ternyata halaman judul-ku perlu diperbaiki juga. Ngebut ke ‘Rapih’ #tempat print2an. Hwaa.... jam 9.. Dalam hati, ‘ya Allah... semoga Pak Joko telat....’ :D

Sudah jam sembilan lewat.... jam setengah sepuluhan. Nunggu di akademik,. Lumayan, sambil ngadem, setelah tadi kebut2an, keringetan. Jadi ada waktu untuk istirahat, menenangkan hati dan otak, me-review lagi TA yang sudah siap diujikan.

Jam sepuluh kurang seperempat., “Assalamu’alaikum.” Pak Joko datang. Hhhmmm.... Melihat saya, beliau, “o iya,,! hari ini aku janji-in kamu ujian TA ya.??” #Gubyaakkk.!!! “Sebentar ya...” lanjut beliau.

Beberapa saat kemudian. “sini nis..!”, panggil Pak Joko. Hwahhh... deg-deg’an, sedikit tenang. Saya sodorkan TA saya, dan lembar berita acara dari Pak Kardiyono kemarin. Pak Joko membuka-buka. #Haduhhh,.. mau ditanya apa ya...

Pak Joko, “kemarin, ujian Pak Yahya, berapa lama.?”. #Hloh,? Malah tanya ini.?. 

Saya, “Emmm... cuman sebentar Pak.”  

“Mana,? Jani keluar, tak tungguin kamu gak keluar-keluar.” 

“Iya, kemarin habis mbak Jani saya Pak.” 

Beliau, “kenapa.?”

“Soalnya kemarin komputernya henk Pak, buat nyimpen itu...”

“Itu bunganya tinggal kopi gitu to.?”

“Iya Pak.”

“Kenapa pada lama ?”

“ya, soalnya..., kemarin pas jelasin biasanya kan bunganya itu sama. 45% , 45%semua. Kalo’ kemarin kan beda, bunganya sendiri, pendapatan sendiri,. gitu. Jadi pada bingungnya di situ Pak.” #entah bener apa gak, sekenanya. :D
Hhmmm suasananya jadi netral.

“Pengertian Audit.?” Mulai ke TA.

“Ehmm ada banyak pengertian ini Pak, saya hafalnya yang menurut ISO 9000:2005,. Bla..bla..”

“Saya maunya yang menurut Konrath”

“Wah, panjang itu Pak.”

“Atau Alvin A. Arens.”

“Waa, apalagi itu, bahasa Inggris Pak..” nyengir..

“Kamu kalo milih yang sedikit ntar nilainya juga sedikit..”

“Hehe... Ya... dari beberapa pengertian itu kan, sebenarnya intinya sama. Yang ringkas itu ya, yang itu tadi Pak..” #ngelEss..

Pertanyaan kedua;
“Mbak yang di kedokteran itu, siapa.? Mbak xxx, belum nikah ya.?” #Hweee..??!
“Belum Pak”.
“Kebanyakan dakwah itu” #Pliss deh Pak..?!
“Itu, jadi murobiah-mu..,?”
“Gak sih pak, dulu kan cuman sempet, karena beliau itu alumni JAFI, ya... gitu lah Pak, silaturahim”
“Iya...”

 Pertanyaan ke tiga;
“Jenis-jenis audit?” Kembali lagi ke TA lagi.

“Emmm... audit internal..” #dipotong Pak Joko, “Menurut luasnya.”

“O, ada 2 Pak. Audit Umum, dan audit khusus. Kalo umum itu... bla..bla... #menjelaskan”

Pertanyaan ke empat;
“Pokok bahasannya ini apa.?” 

“Audit siklus pembelian di Syar’e Mart, pak.”

“Pokok masalah.. Rumusan.?” Beliau mengulangi.

Baru ngeh, agak gugup “O,, rumusan masalahnya itu, apakah ada kendala-kendala yang dihadapi ketika audit..”

Pak Joko memotong, “Moh, yang urut,! Kamu yang nulis og”
Saya sebutkan lagi dengan urut.

Pertanyaan selanjutnya;
“Tahapan-tahapan auditnya.?”

“jadi, kita membeli..” #selalu gugup di awal menjawab.

“He.?? Kita.???”, disela oleh Pak Joko.

Saya jelaskan lagi dengan urutan yang benar.

“Terus ini faktur yang tidak diketahui keberadaannya ini, solusinya gimana.?

“Ya, kan, hasilnya ini dilaporkan ke manajer keuangannya, untuk nanti diberikan tindak lanjut”

“Kalo’ gitu nanti ini kamu rekap, biyar dicari”. #Manajer keuangan Syar’e Mart adalah Pak Joko sendiri.

Dibuka sampai halaman belakang, di lampiran, surat keterangan magang. Tanda tangan. “Mana lembar pengesahanmu.?”. Dibuka lagi ke depan. Tanda tangan.
“Berita acaranya.? Ini dilengkapi dulu,. Moh aku. Diisi itu, bahasa inggrisnya juga”.
Selesai mengisi. “Ini Pak.”
SrEt..srEt... tanda tangan. Dan............ di kolom Nilai Akhir(Huruf), beliau membubuhkan huruf....... ‘A’.

Alhamdulillah....ya Allah.................
Plong.... rasanya satu beban berat sudah gugur. 

Hwaaaa.....senenggggg bangett.... Jadi mikir, ‘kapan ya terakhir kali ngerasain yang seperti ini..?’. Aura kegembiraan mulai memancar kemana-mana. Wujud syukur, bawaannya pengen sedekaaah aja. Senyum ke semua orang. :D

Dan yang pertama saya tulari aura positif dari kegembiraan saya adalah 2 Bapak petugas keamanan motor perpus #gak tahu namanya. “Paak...... #senyum lebar”. Bapak2nya membalas dengan senyumannya yang tak kalah manis. Bapaknya, “Nis.? Masih ujian po.?. Saya, “Iya Pak, ini habis ujian TA”. “Gimana.?”, tanya bapaknya. “Alhamdulillah..... dapat nilai ‘A’ pak.......... #sambil membentuk huruf ‘A’ dengan jari”, saya, agak hiper.:D   “ya..... syukurann...”, kata Bapak satunya.
Alhamdulillah..... alhamdulillah.... alhamdulillah......

:D    :D    :D
Kaya’ baru kali ini merasakan yang namanya ‘seneng’.

--------

Ingat ketika kemarin survey lokasi outbond untuk upgrading. Saat ngos-ngos'an menaiki bukit dengan kemiringan yang 'waaowww', si Mas Ahmad Arief Syarief (nama boros) mengatakan 'Ini, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Pertama naik kaya' gini, ntar turunnya enak'. Setelah tiba saatnya turun bukit, Saya, "Katanya bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,? mana ada.? Hla wong naik kaya' tadi, turunnya lebih ekstrim kaya' gini. #rute turunnya lebih 'waaowww', dengan kemiringan yang 'waow', dan tingkat kemungkinan terpeleset dan menggelinding yang 'waawww' juga. 'ini namanya bersakit-sakit dahulu, bersusah-susah kemudian..', :D
#moment ribut survey up-grading.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6)
#satu baris kalimat yang mengisi halaman MOTTO, TA saya...




-----Perpus Pusat UII, 26 Desember 2012-----
ba'da Ashar

Rabu, 19 Desember 2012

Study Qur'an3_Asbab An-Nuzul

Posted by Nis |



Bismillah...
Segala puji tercurah hanya kepada Allah SWT..,
Melanjutkan lagi bahasan yang telah lalu;
sumber: Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an, Syaikh Manna' Al-Qaththan
----------------------------

ASBAB AN-NUZUL

Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, menegakkan suatu kehidupan yang didasarkan kepada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Juga mengajarkan mereka dalam menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian kontemporer. Dan tentang berita-berita masa depan.

Sebagian besar ayat-ayat Al-Qur’an pada dasarnya diturunkan untuk tujuan umum ini. Tetapi kehidupan para sahabat bersama Rasulullah saw telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui bagaimana hukum Islam dalam hal itu. Maka Al-Qur’an itu turun untuk merespon peristiwa khusus tadi atau pertanyaan yang muncul itu. Hal-hal itu yang disebut asbab an-nuzul.


Pedoman Mengetahui Asbab An-Nuzul
Untuk mengetahui asbab an-nuzul secara shahih, para ulama berpegang kepada riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah saw atau dari sahabat. Sebab, pemberitaan seorang sahabat mengenai hal ini, bila jelas, berarti bukan pendapatnya, tetapi ia membpunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah). Menurut Al-Wahidi, “Tidak diperbolehkan ‘main akal-akalan’ dalam asbab an-nuzul Al-Qur’an, kecuali berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertiannya serta bersungguh-sungguh dalam mencarinya.”

Inilah metodologi ulama salaf. Mereka amat berhati-hati mengatakan sesuatu mengenai asbab an-nuzul, tanpa pengetahuan yang jelas.

Definisi asbab an-nuzul
Setelah dikafi dengan cermat, sebab turunnya suatu ayat itu berkisar pada dua hal:
1.      Jika terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa itu.
2.      Bila Rasulullah ditanya tentang sesutau hal, maka turunlah ayat Al-Qur’an menerangkan hukumnya.

Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mencari sebab turunnya setiap ayat, karena tidak semua auat Al-Qur’an diturunkan karena timbul suatu peristiwa dan kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada di antara ayat Al-Qur’an yang diturunkan karena sebagai ibtida’ (pendahuluan), tentang akidah iman, kewajiban Islam dan syariat Allah dalam kehidupan probadi dan sosial.


Oleh sebab itu, maka Asbab An-Nuzul didefinisikan sebagai “Sesuatu yang karenanya Al-Qur’an diturunkan, sebagai penjelas terhadap apa yang terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.”
Jika asbab an-nuzul itu bersifat khusus, sedang ayat itu turun berbentuk umum, maka para ahli ushul berselisih pendapat, yang dijadikan pegangan itu apakah yang umum atau sebab yang khusus.?

1.      Jumhur ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah lafazh yang umum dan bukan sebab yang khusus. Suatu ayat yang diturunkan atas sebab orang tertentu pada masa Rasulullah saw, tidaklah hanya berlaku kepada orang tersebut, akan tetapi berlaku secara umum pada kasus yang serupa. Dan ayat yang mempunyai sebab tertentu, jika berbentuk perintah atau larangan, disamping berlaju kepada orang yang menjadi sebab turunnya auat itu, juga berlaku kepada orang lain yang memiliki kedudukan sama dengannya. Demikian juga dengan ayat berisi pujian atau celaan, dapat berlaku bagi orang yang menjadi penyebab dan orang lain yang sama kedudukannya.

2.      Kelompok ulama lain berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah kekhususan sebab, bukan lafazh yang umum. Karena lafazh yang umum itu menunjukkan sebab yang khusus. Oleh karena itu untuk dapat diberlakukan kepada kasus selain yang menjadi sebab turunnya ayat, diperlukan dalil lainnya seperti qiyas dan sebagainya, sehingga pemindahan riwayat sebab yang khusus itu mengandung faedah; dan sebab tersebut sesuai dengan musababnya seperti halnya pertanyaan dengan jawabannya.




Beberapa riwayat mengenai Asbab An-Nuzul
  1. Apabila bentuk-bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, seperti, “Ayat ini turun mengenai urusan ini,” atau “Aku mengira ayat ini turun mengenai urusan ini,” maka tidak ada yang kontradiksi di antara riwayat-riwayat itu, sebab maksud riwayat-riwayat tersebut adalah menafsirkan atau menjelaskan bahwa hal itu termasuk ke dalam makna ayat yang disimpulkan darinya, bukan menyebutkan Asbab An-Nuzul, kecuali bila ada indikasi pada salah satu riwayat yang menunjuk kepada penjelasan Asbab An-Nuzul.
  2. Jika salah satu redaksi riwayat itu tidak tegas, misalnya “Ayat ini turun mengenai urusan ini”, sedang riwayat lain menyebutkan Asbab An-Nuzul secara tegas yang berbeda dengan riwayat pertama, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang menyebutkan secara tegas itu, dan riwayat yang tidak tegas dipandang termasuk di dalam hukum ayat. Contohnya ialah riwayat tentang asbab an-nuzul:
“Istri-istrimu adalah ibarat tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Al-Baqarah: 223)
Dari Nafi’ disebutkan, “Pada suatu hari aku membaca ayat ‘Istri-istrimu...,’ maka kata Ibnu Umar, “Tahukah engkau mengenai apa ayat ini turun?” Aku menjawab, “Tidak.” Ia berkata; ‘Ayat ini turun berkaitan dengan masalah mendatangi istri dari belakang (dubur).”(HR. Al-Bukhari dan yang lain). Redaksi dari Ibnu Umar ini tidak dengan tegas menunjukkan sebab nuzul. Sementara itu terdapat riwayat yang secara tegas menyebutkan sebab nuzul yang bertentangan dengan riwayat tersebut. Melalui Jabir katanya, “Orang Yahudi berkata, Jika seorang laki-laki mendatangi istrinya dari belakang, maka anaknya akan bermata juling. Maka turunlah ayat ‘Istri-istrimu adalah ibarat...’, Maka riwayat Jabir inilah yang dijadikan pegangan, karena ucapannya merupakan pernyataan tegas tentang sebab nuzul. Sedang ucapan Ibnu Umar, tidak demikian. Karena itu ia dipandang sebagai penafsiran atau kesimpulan.

  1. Jika riwayat itu banyak dan semuanya menegaskan sebab nuzul, salah satu riwayat itu shahih, maka yang dijadikan pegangan adalah riwayat yang shahih.
  2. Apabila riwayat-riwayat itu sama-sama shahih namun terdapat segi yang memperkuat salah satunya, seperti kehadiran perawi dalam kisah tersebut, atau salah satu dari riwayat-riwayat itu lebih shahih, maka riwayat yang lebih kuat itu yang didahulukan.
  3. Jika riwayat-riwayat tersebut sama kuat, maka riwayat-riwayat itu dipadukan atau dikompromikan jika mungkin, hingga dinyatakan bahwa ayat itu turun sesudah terjadi dua buah sebab atau lebih karena jarak waktu di antara sebab itu berdekatan.
  4. Jika tetap tidak bisa dipadukan, maka dipandanglah ayat itu dirurunkan beberapa kali dan berulang.


Banyak Ayat Satu Sebab
Terkadang banyak ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu. Dalam hal ini tidak ada masalah yang cukup penting, karena itu banyak ayat yang turun di dalam berbagai surat berkenaan dengan suatu peristiwa. Contoh; diriwayatkan dari Said bin Manshur, Abdurrazzaq, At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabrani dan Al-Hakim mengatakan shahih, dari Ummu Salamah, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan sedikit pun mengenai hijrah. Maka Allah menurunkan: ‘Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman); Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan; (karena0 sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain...” (Ali-Imran: 195)

Juga hadits yang diriwayatkan Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ath-Thabrani dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah katanya, “Aku telah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapakah kami tidak disebutkan dalam Al-Qur’an seperti kaum laki-laki? ‘Maka pada suatu haru aku dikejutkan dengan seruan Rasulullah di atas mimbar. Beliau membacakan; ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim... sampai akhir ayat. (Al-Ahzab: 35)

Al-Hakim meriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata, “Kaum laki-laki berperang sedang perempuan tidak. Disamping itu kami hanya memperoleh warisan setengan bagian dibanding laki-laki? Maka Allah menurunkan ayat; ‘Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain; karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan pula...’(An-Nisaa’:32). Ketiga ayat di atas turun karena satu sebab.


Ayat Lebih Dahulu Turun daripada Hukumnya
Dalam Al-Burhan (_nama kitab) disebutkan, “Ketahuilah, turunnya suatu ayat itu terkadang mendahului hukum. Misalnya ayat, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri.’ (Al-A’la: 14). Ayat tersebut dijadikan dalil untuk zakat fitrah.

Demikian pula ayat yang turun di Makkah: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan akan mundur ke belakang.” (Al-Qamar: 45) Umar bin Al-Khattab mengatakan, “Aku tidak mengerti golongan mana yang akan dikalahkan itu. Namun ketika terjadi Perang Badar, aku melihat Rasulullah berkata, “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan akan mundur ke belakang.” 



Beberapa Ayat Turun Berkaitan dengan Satu Orang
Dari Sa’ad bin Abi Waqash, ia berkata, “Ada empat ayat Al-Qur’an turun berkenaan denganku. Pertama; Ketika ibuku bersumpah bahwa ia tidak akan makan dan minum sebelum aku meninggalkan Muhammad, lalu Allah menurunkan ayat, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15). Kedua; Ketika aku mengambil sebilah pedang dan mengaguminya, maka aku berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku pedang ini. Maka turunlah ayat; ‘Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang.’ (Al-Anfal: 1). Ketiga; ketika aku sedang sakit, Rasulullah mengunjungiku, aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku ingin membagikan hartaku, bolehkah aku mewasiatkan separuhnya,?’ Beliau menjawab, “Tidak boleh.” Aku bertanya, ‘Bagaimana kalau sepertiga?’ Rasulullah diam. Maka wasiat dengan sepertiga harta itu diperbolehkan. Keempat; ketika aku sedang meminum khamr (minuman keras) bersama kaum Anshar, seorang dari mereka memukul hidungku dengan tulang rahang onta. Lalu aku datang kepada Rasulullah, maka Allah swt menurunkan larangan minum khamr.” Termasuk  ke dalam kategori seperti kasus ini adalah adanya kesesuaian sikap dan cara berpikir Umar dengan wahyu. Banyak ayat yang turun berkenaan dengan pendapatnya.




------Perpus Pusat UII, 19 Desember 2012------
ba'da dluhur 

Sabtu, 15 Desember 2012

little Story_Ibu' I Love U

Posted by Nis |



Bismillah..,,,
Segala puji hanya untuk Allah SWT…,

_(Jum'at, 14 Desember 2012)., Hmmmhhhahhhh,,,,,, segarnya udara pagi di rumah merasuk ke paru-paru. Duiingiiiinnnn rasanya berada satu tingkat di atas dinginnya udara daerah Kaliurang yang berada di kawasan gunung Merapi. “Yuk tumbas jenang nggo sarapan.. (Yukk,, beli bubur buat sarapan..,)” Ibu’ku yang the best, tak pernah  telat menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga tercinta.

Teringat dulu ketika masa-masa sekulah. Tiap pagi, “sarapan sik,. Gek mangkat..!”.  Di atas meja sudah tersedia lauk-pauk, kadang ya tempe goreng, tahu goreng, telur goreng, lele goreng, ayam goreng, nasi goreng, de-es-be. Tak lupa sayur mayur, tumis kacang panjang, tumis kangkung, tumis kecambah, tumis tempe, tumis brokoli, dan berbagai tumis-tumisan sayur lainnya. Ketika itu masih pilih2, doyannya hanya sayur tumis. Tidak pernah absen, sebagai intinya adalah ‘sambel’ (hwe.??). Gantian, sambel tomat, sambel terasi, sambel bawang, sambel korek (_bukan yang buat nyalain api lho..!), de-es-be. Dan di reskuker, ketika tutup dibuka, bulllllllll... sumup-e mengepul,. Hmmmm,.. mak nyoossss lah poko’e...

Sudah capek-capek menyiapkan semua itu, beliau harus merasakan kekecewaan setiap pagi. Yah,, sudah banyak-banyak dimasakin, saya makan palingan tiga-empat sendok. Terkadang, “wis telat buk... salim..” cium tangan, “assalamu’alaikum..!!” langsung ngacir. Teriakan beliau mengejar, “sarapan sik..! wis mateng ki lho..! kandani kon sarapan sik..! Ngeyel lho..!”.

Masa Orientasi Siswa (MOS), ritual gojlogan siswa baru. Peraturannya, di antaranya adalah memakai atribut, dan membawa menu makanan sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh senior. Para senior itu tak akan segan membentak, dan menghukum anak2 baru yang melanggar. Bahkan untuk hal terkecil-pun. Sehingga tak jarang ada anak baru yang asma-nya kambuh, jantungnya kambuh, tak terbiasa diperlakukan kasar seperti itu.

Pagi itu, kesiangan. Gak sarapan, gak minum susu, minum air putih aja enggak.. Sampai di jalan raya, hendak menyebrang, ada bis-‘ku’ lewat. Masih berhenti menaikkan penumpang, sementara saya grusa-grusu nyebrang, mana jalannya ruame. Sampai di tengah-tengah (pembatas jalan antara jalur ke Jogja dan ke Solo) eh, bisnya berangkat. Haduuuhhhh telattt.... di saat galau seperti itu, “Nis.! Nis..! Iki ketinggalan..!” teriakannya membahana. Orang-orang di pinggir jalan, yang lagi nunggu bis (baik yang mau ke arah Jogja dan Solo), para tukang ojek, yang lagi nongkrong di tempat penitipan sepeda, yang lagi bertransaksi burjo motor di pinggir jalan, dan yang lagi berhenti karena lampu merah, semua melihat ke sumber suara. Ibuk’ku,. dibelakangnya ada Pak Lik dengan motor kesayangannya.

Saya kembali, menyebrang jalan lagi, menghampiri Ibu’. Beliau menyodorkan sebuah bungkusan, ku buka, dan terlihatlah sebuah kotak makan, berwarna biru. “Iki, koe ngko ndak diseneni kakak kelasmu..” beliau menerangkan. Ekspresi cemas, khawatir, tergambar di guratan wajahnya. Belum sempat bertanya, isinya apa,, dari kejauhan arah Jogja muncul bis Damri. Spontan, “enek bis buk., assalamu’alaikum..!” dan saya sudah berada di sebrang jalan. Saatnya go to sekulah. Dalam hati, “ayo pak sopirr.... ngebut pak...,,!). Bisa berabe ntar telat lagi.

Sampai di Kartosuro, bis mulai lengang. Yang tadinya penuh sesak, mayoritas penumpangnya adalah karyawan pabrik di Kartosuro, dan setengahnya lagi adalah anak2 siswa baru di sekolah2 di Solo. Hmmmm... dapat tempat duduk.

Penasaran, “sing ketinggalan mau opo ya.?”. Ku buka kotak biru di pangkuanku. Baunya menyeruak,. ternyata isinya adalah menu makanan yang harus dibawa pagi ini., ikan asin berkepala dua. Terbayang wajah khawatir Ibu tadi. Terbayang bagaimana ibu tergesa meminta Pak Lik cepat mengantarnya. Tertangkap maksud yang begitu mulia. Tak ingin anaknya diteriaki, tak ingin anaknya dimarahi, tak ingin anaknya disakiti.
Cless... butiran hangat meleleh di pipi. Haru...


Ibu’ I Love U.....

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman:14)

Kog, jadi sedih gini ya, ceritanya... Hmmm.... gpp, diambil hikmahnya saja...

----------
Saatnya kembali ke Jogja. Seperti biasa, wejangan Ibu’ sebelum melajukan motor, “ati-ati... do’a sik..! ngko yen udah mandeg sik...! Yen wis tekan gek ngebell ya...!”

Sesuai dengan saran beliau, mantol sudah dipakai dari rumah, persiapan kalo’ nanti tiba-tiba hujan. Terlihat mendung di langit arah ke Jogja. Dengan mantol berkibar-kibar, menyusuri jalan, melewati daerah-daerah yang ternyata berlangit cerah. Ke selatan lagi, agak gerimis-gerimis. Terus ke selatan, ya, hanya gerimis dikit. Gak sampai kategori membasahi mantol.

Sudah dekat. Di pom Bensin daerah Besi, teringat, ‘hari ini kan Rafiwati ngajar TPA.., sama siapa ya.. (biasanya sendirian). Mampir dulu ah, sekalian jemput’. Sampai di depan masjid, terlihat motornya de’ Icha. ‘O,, sudah bawa motor..(biasanya antar-jemput)’. Menyapa anak2 sebentar, lalu go to asrama.

Maghrib, di Ulil tercinta. Entah sensitifitas hati lagi tinggi atau iman yang lagi down, seorang karib’ku mengucapkan kata-kata. Agak perih di ulu hati.

“Allahu akbar.!” Mengikuti suara mas Hasibuan, pertanda shalat maghrib dilaksanakan. Bersedekap,. Rasa pedih di hati tadi semakin terasa. Menyesak. ’fokus... fokus...’, gak bisa.!


Berbisik di hati, ‘dia tadi gak bermaksud... please deh..!’. Haduhh,,.. berusaha berbaik sangka, menenangkan hati, berbagai kata-kata bijak. Masih juga terasa.! Perih, terbakar, gosong, menganga,,. Haisshhhh...

Sampai akhirnya teringat, ‘ali bin abi thalib ra., mengatakan, “Syarat pertemanan: menutup mata pada kealpaan, berlapang dada dalam bergaul, dan saling mengasihi dalam kesulitan”.

‘Menutup mata pada kealpaan’, ‘syarat berteman adalah menutup mata pada kealpaan’,. Mengulang-ulang kalimat ini.

Berangsur, mak clesss.... adem...

Kalo’ bisa digambarkan sih mungkin, kaya’ yang diiklan-iklan minuman itu lho.., Pas lagi esmosi, muka merah padam, berkobaran api di dada, tiba-tiba ada yang nempelin minuman dingin di pipinya. Cless... Sperti itulah...

Berdiri lagi untuk rakaat kedua. Kembali bersedekap. Rasanya hati ini sudah longgar..,. Kucari-cari..,’mana ya, sakitnya tadi.?? Mana sakitnya tadi.?’.. 
Hilang...,

Alhamdulillah.....



--diambil hikmahnya saja...
_Begitulah cara syaithonirrojim meniupkan api ke dalam hati manusia. Mengipas-ngipasnya, menambahkan garam dan cuka, menjadikan benar-benar dalam kendalinya.
Waspadalah.!!





-----Perpus Pusat UII, 15 Des'12-----
11:28 

Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger