Selasa, 08 Desember 2015

Cek NIAT MENIKAH, sudah BENAR-kah?

Posted by Nis |

Bismillah...
Segala pujian milik Allah Ta’ala.

Sebuah buku luarrrrr biasa, -semoga penulisnya senantiasa dirahmati Allah- yang isinya sangat mak nyuussss buangettt. Atas izin Allah Ta’ala sampailah ke tangan  saya buku tersebut, yang sungguh menginspirasi, menyejukkan hati –buat yang merasa sudah jadi jomblo sejati, wkwkwk- ilmu tentang bagaimana prosesnya menjemput jodoh yang baik dan benar. Ahhayyyy ini cocok sekali untuk kita yang sekian lama merana memikirkan yang namanya pernikahan. #kita.?? Lu aja kali... :D

Ayolah... Merasa sudah tahu ilmunya itu tidak baik untuk kesehatan hati dan jiwa. Terus gali dan kaji setiap ilmu dan informasi yang menunjang kita untuk memperbaiki diri lebih dan lebih lagi. Nah, setelah mendapatkan ilmu tadi, afdholnya adalah kita berbagi. Semoga dinilai ibadah di sisi Illahi Rabbi. Ingat dong sabda Nabi, “sampaikanlah walaupun satu ayat..”

Baiklah, tidak perlu berlama-lama silakan dinikmatin saja bagaimana isinya.. :D


Sudah siap.  via: http://sikotak.tumblr.com/



----------------------------------


CEK NIAT MENIKAH, SUDAH BENARKAH?




“Jodoh itu tak seperti jelangkung. Kedatangannya harus dijemput, proses bertemu dengannya harus diikhtiarkan, dan gelar jodohnya pun harus diperjuangkan.”
--Canun & Fu

“Di saat hati telah merasa siap untuk menikah, tetapi belum jua Allah pertemukan dengan jodohnya, sedangkan waktu terus bergulir menambah usia, inilah saatnya untuk bermuhasabah; sudahkah diri sebenar-benarnya ‘layak’ di mata Allah untuk menyempurnakan separuh agama?”

Segala hal yang dilakukan berawal dari niat, bahkan segala hal yang dilakukan pun dinilai dari niat. Bisa terlaksana karena ada sebuah niat, yang meskipun wujudnya abstrak tak terlihat, pasti ada. Entah disadari langsung atau tidak, meskipun hanya diri kita dan Tuhan yang tahu. Nah, justru karena hanya diri kita dan Tuhan yang tahu, sering kali niat ini tersepelekan, teracuhkan, tak terhiraukan. Bahkan, sering kali kita lupa cek dan ricek apa niat dalam hati kita yang sebenarnya ketika melakukan segala amal perbuatan kita, termasuk menikah.

Ditanya soal “Apa niat menikahmu?” tentu banyak yang akan menjawab, “niat ibadah”, “melaksanakan Sunnah Rasul”, “Karena Allah”, “Mempunyai keturunan”, dan jawaban-jawaban lainnya, yang mohon maaf, adalah jawaban-jawaban umum, atau bisa dibilang klise. Alhamdulillah, bila memang jawaban2 tersebut adalah niat Anda yang sesungguhnya untuk menikah, lantas bila tidak? Maksudnya? Oke, mari kita cek beberapa fenomena berikut ini, resapi betul dan tanyakan kepada hati Anda, adakah hal tersebut juga terjadi pada diri Anda? Let’s see...





Tidakkah Anda terlalu merasa BOSAN hidup sendiri?
Yakinkah niat menikah Anda benar-benar karena ingin menyempurnakan separuh agama? Bukan karena Anda sudah terlalu jengah akan kehidupan? Bukan karena Anda sudah merasa terlalu lelah melakukan segalanya sendirian? Bukan karena itu semuakah? Lalu, bila memang semua alasan itu benar2 ada di benak Anda, salahkah?

Jenuh.  via: http://elfian-psy.blogspot.co.id/2013/06/mengatasi-rasa-jenuh-bosan-dan.html


Tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi kurang tepat. Kurang baik untuk Anda jadikan alasan, karena secara tidak langsung, unconsciously bersemayam dalam pikiran juga hati. Merasa ingin seperti orang lain yang sudah memiliki ia yang bisa mencintai dan dicintai, itu adalah hal yang wajar, wajar banget malah. Namun, saat keinginan tersebut hanyalah “selimut” bagi alasan Anda sebenarnya yang sudah BOSAN dalam kesendirian, Anda harus hati2. Jangan2 Anda memang belum pantas untuk menikah karena hal tersebut yang masih mengganjal “kepantasan” Anda.

Jangan2 Anda memang hanya ingin “dicintai”, tapi belum siap mencintai. Jangan2 Anda hanya siap “menuntut”, tapi belum siap “menuntun”. Jangan2 Anda hanya ingin tempat bersandar yang nyaman, tapi belum siap untuk menjadi tempat ternyaman bagi pasangan. Jangan2 juga Anda hanya siap untuk “dibahagiakan”, tapi belum memiliki mental “membahagiakan”. Jangan2 apa lagi, ya? Yuk, programming ulang! Pastikan niat menikah Anda bukan karena sudah BOSAN hidup sendiri, namun benar2 siap untuk “memiliki dan dimiliki” pasangan.





Tidakkah Anda sebenarnya ingin “kabur” dari rumah?


Kabur dari penjara hatimu. :D   via: http://jurnalintelijen.id/news-53347


Yakinkah niat Anda benar2 karena ingin lebih khusyuk dalam beribadah? Bukan karena Anda sudah tidak nyaman berada di rumah orangtua? Bukan karena Anda sudah ingin “lepas” dari bayang2 keluarga Anda? Bukan karena Anda ingin menghilang dari ketidakkondusifan rumah untuk menciptakan “dunia baru”? bukan karena itu semuakah? Lalu, kalau alasannya karena semua hal tersebut, memangnya salah?

Baiklah, biar Anda yang menyimpulkan jawabannya sendiri. Begini, dengan menikah tentu kita akan menciptakan sebuah “rumah” baru, keluarga baru yang kita rintis. Yang awalnya terdiri dari diri kita dan pasangan, kemudian ada anak dan lain2, sehingga tercipta kembali sebuah keluarga. Ya, yang dibangun dalam pernikahan adalah “rumah” baru, keluarga baru, yang kita inginkan dan harapkan.

Bisa Anda bayangkan bagaimana bila Anda akan membangun sebuah rumah yang harmonis, nyaman, dan tenteram, namun ternyata Anda sendiri punya track record “bermasalah” dengan yang namanya “rumah”. Anda pernah begitu “tidak suka” pada yang namanya rumah, dan itu menjadi dendam tersendiri dalam hati Anda. Belum terselesaikan. Tidakkah itu ibarat “lari” dari masalah dan menuju “masalah” yang sama? Dengan kondisi seperti itu, yakinkah Anda bisa melewatinya? Bisakah Anda menciptakan sebuah “rumah” yang nyaman, padahal sebelumnya malah “lari” karena gagal dalam menciptakan kenyamanan tersebut (sebelumnya)?

Adakah yang bisa menjamin Anda tidak akan melakukan hal yang serupa, alias “lari” lagi saat impian Anda menciptakan “rumah” itu kembali gagal? Tidakkah Anda akan “kabur” kembali?

Yuk, cek kembali niat menikahnya! Pastikan Anda tidak sedang ingin kabur dari rumah sehingga ingin “terburu2” menikah.





Tidakkah Anda “panas” terhasut euforia menikah?


Siapkan hati dan amplop :D   via: http://www.rosasusan.com/2015/09


Yakinkah niat menikah Anda memang karena kemantapan hati yang sudah “siap menikah”? bukan karena Anda gerah melihat fenomena janur kuning di akhir minggu, yang berderet hampir di setiap tikungan yang Anda lalui? Ada rasa panas, gerah, dan gemuruh di hati, yang biasanya diiringi helaan napas begitu ingin sekali menikah, mempertanyakan, “Kapankah nama yang tergantung di janur kuning itu adalah namaku dan ia yang menjadi jodohku?” yakin, itu terjadi pada Anda?

Tak ada yang salah dengan euforia menikah, tetapi tak pantas juga ia menjadi pembenaran niat menikah Anda. Fenomena menikah muda, ikut2an tren, atau something like that tak sepantasnya menjadi alasan Anda untuk menikah. Ingat, setiap pernikahan haruslah diniatkan untuk berlangsung seumur hidup, sekali saja tanpa siaran ulang. Anda bisa bayangkan bila niat menikah Anda hanya karena euforia semata, ada masa “aus”-nya, ada masa layunya laiknya janur kuning itu sendiri. Ya, segala sesuatu yang berbau euforia pastilah hanya bertahan sementara, tak bisa Anda jamin terus-menerus semangatnya. Sedangkan yang namanya pernikahan harus diperjuangkan, lika-likunya tidak stabil, tak bisa dijamin “api”-nya akan terus menyala sepanjang masa bila tanpa diusahakan.

So, masih karena euforiakah niat menikahmu? Berhenti untuk merasa “gerah” melihat janur kuning, ya. Ganti semua rasa gerah, panas, gerutu tak menentu dengan doa, “Semoga Allah segera pantaskan namaku dan si dia yang menggantung di sana.”





Tidakkah Anda memelihara rasa “iri” terhadap yang sudah menikah?


Kapan aku?   via: http://obraldp.blogspot.co.id


Yakinkah niat menikah Anda memang untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah? Bukan karena ada rasa iri negatif terhadap mereka yang sudah menikah? Bukan karena sudah terlalu sering mendapat undangan, tetapi belum jua jelas kapan diri ini yang mengundang? Bukan juga karena ingin membuktikan kepada orang lain bahwa “Saya juga bisa menikah”? Benarkah semua perasaan iri kepada orang lain itu tidak ada pada hati Anda? Lalu, saat Anda merasa iri, apakah hal positif yang ada dalam hati Anda atau justru hal negatif? Dendam ataukah doa yang terlontar saat iri bercokol di dalam hati Anda?

“Hellooowww... penting, ya, mau tau urusan hati? Itu kan hati gue, ya, mau iri juga urusan gue, mau dendam juga urusan gue, rempong amat, si?”

Ya, benar. Apa yang ada dalam hati Anda adalah urusan Anda. Namun, pernahkah berpikir bahwa boleh jadi rasa “iri: itulah yang mengaburkan “niat menikah” Anda yang sebenarnya. Sebaiknya kita kurangi keluhan2 seperti merasa capek terus menerima undangan, merasa “iri” kepada mereka yang sudah menikah sementara “gue kapan?”. Ganti semua itu dengan doa. Semoga dengan ikut mendoakan mereka yang sudah menikah, malaikat juga turut mendoakan Anda untuk segera menikah. Ganti rasa iri dengan doa, agar semakin menjernihkan niat menikah Anda. Bismillah...





Tidakkah Anda menjadikan pernikahan urusan “menang dan kalah”?
Yakinkah niat menikah Anda karena ingin berjamaah menggapai ridha-Nya? Bukan karena orang lain yang terus “mendorong” Anda untuk menikah? Bukan karena pernikahan adalah piala bergilir yang harus Anda menangkan? Bukan karena Anda tak mau kalah atas mereka yang selalu membuat Anda “terkompori” untuk segera menikah? Benarkah bukan karena itu?

“Pernikahan bukanlah urusan menang-kalah seperti perlombaan, namun ia sangat patut diperjuangkan melebihi sebuah perlombaan.”
--Fu


Siapa duluan.?   via: http://www.sobatandroid.com


Saat urusan menikah dikaitkan dengan menang-kalah, secara otomatis ia akan menghadirkan keterlibatan “pihak lain”. Sedangkan niat menikah, kesiapannya, dan kemantapannya haruslah pure datang dari hati masing2. Kita tak bisa menyamakan pernikahan dengan sebuah perlombaan, karena bila sudah disebut perlombaan, ada kesamaan “kriteria” yang harus dimiliki peserta lomba. Sedangkan menikah adalah urusan individu, setiap orang berbeda, tak bisa disamaratakan karena usia, jabatan, dan hal2 lainnya. Ya, karena setiap orang berbeda kebutuhannya.

“Banyak orang boleh saja memiliki keinginan yang sama dalam satu waktu untuk menikah, namun tak setiap orang memiliki kebutuhan yang sama dalam satu waktu untuk menikah.”
--Fu

Menikah adalah urusan diri Anda utuh. Apakah hati dan logika Anda telah siap? Apakah fisik dan mental Anda telah siap? Apakah jiwa dan raga Anda telah siap? Kebutuhan Anda untuk menikah tak bisa disamakan dengan orang lain. Anda memiliki kebutuhan sendiri. Anda memiliki “ketetapan” sendiri untuk menikah. Saat orang lain sudah butuh menikah, belum tentu Anda membutuhkannya. Bahkan, saat Anda ingin menikah, belum tentu Anda butuh menikah.

Ingin itu ibarat saat Anda menginginkan sebuah tas dengan warna favorit Anda. Tasnya bagus sekali dan membuat Anda begitu ngiler utntuk memilikinya, padahal tanpa tas tersebut Anda masih bisa beraktivitas seperti biasa. Anda masih punya tas lain yang masih layak pakai. Karena itu, tas tersebut masuk kategori keinginan saja, belum menjadi kebutuhan.

Ingin juga seperti seorang anak kecil yang merengek minta permen, padahal tanpa makan permen juga ia masih bisa hidup baik2 saja. Lain halnya bila tidak makan, ia akan kelaparan, kemudian sakit, lalu menghadirkan mudarat lainnya. Karena itu, makan menjadi kebutuhannya, sedangkan permen hanyalah keinginan.

Tanyakan kepada hati dengan pikiran jernih, sudahkah menikah menjadi kebutuhan? Jangan2 masih sebatas keinginan saja. Jangan2 masih karena alasan orang lain. Jangan2 masih sebatas dorongan eksternal yang menggebu, sementara niat internal masih rapuh. Jangan2 Anda memang belum benar2 siap untuk menikah. Yuk, cek lebih dalam lagi niat menikahnya, sudahkah kita terbebas dari semua kekhawatiran ini?





Tidakkah terlanjur cinta kepada makhluk yang lebih mendorong Anda untuk menikah?

Sumber cinta.  via: http://weheartit.com/entry/group/9110963


Yakinkah niat menikah Anda memang karena Allah, bukan karena sudah terlanjur cinta kepada si dia? Bukan karena Anda terlalu takut untuk ditinggalkan si dia? Bukan karena Anda melakukan “pembenaran” bahwa di dia adalah jodoh Anda dengan mendahului takdir-Nya? Bukan karena pelampiasan cinta  namun ternyata obsesi semata? Yakin berorientasi karena Sang Pencipta, bukan atas makhluk-Nya?

Saat keputusan sudah berada di tangan, untuk Anda yang sudah memiliki calon pasangan, mohon cek kembali benarkah kebutuhan menikah Anda bukan karena ikut2an pasangan? Benarkah Anda juga sudah benar2 butuh menikah, bukan karena terpaksa sudah terlanjur cinta kepada calon pasangan Anda sehingga Anda setuju menikah dengannya? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pernikahan itu urusan PERSONAL, kesiapan internal diri kita. Tak bisa disamakan dengan orang lain, sekalipun itu dengan calon pasangan Anda. Jangan dipaksakan, karena jodoh adalah cermin; saat Anda siap, ia pun siap; saat Anda belum siap, ia pun masih bersabar memantaskan diri. Kalau sudah begitu, benarkah calon pasangan yang Anda miliki sekarang benar2 cerminan Anda? Jangan dipaksakan, ya, sebelum benar2 masuk ke jenjang pernikahan.

Bila cinta akan makhluk sudah berada di atas segalanya, Anda sebaiknya berhati2 karena hal itu malah bisa menggerus niat menikah yang sebenarnya. Jangan2 Allah tengah cemburu karena Anda fokus kepada makhluk-Nya, sehingga Dia terus memberikan ujian yang membuat Anda tak kunjung menikah. Jangan2 Allah sudah jauh dari kehidupan Anda karena Anda terlalu mencintai dunia dan cinta-Nya, semua itu ternyata hanya obsesi untuk memiliki makhluk-Nya. Yuk, cek lagi, di manakah Anda meletakkan cinta Allah dalam niatan menikah!

Sudah cek semua kedok dan topeng yang kemungkinan menyamarkan niat menikah Anda? Sudah yakin bahwa niat menikahnya  benar2 lurus, tak ada lagi topeng2 itu? Kalau sudah, alhamdulillah, mari kita lanjut ke bahasan selanjutnya. Bila belum, yuk berproses, jernihkan kembali niat menikahnya. Mohon bantuan Allah untuk turut serta menjernihkannya, agar Allah semakin pantaskan kita segera menikah. Amin.



Kapan?  via: http://www.online-instagram.com





----JODOH DUNIA AKHIRAT
Ikhsanun Kamil & Foezi Citra Cuaca
Penerbit: Mizani








-------Jakarta, 8 Desember 2015-----
di meja kerja, 'Ashar

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger