Jumat, 04 April 2014

Pilihan*Hidup_My*story

Posted by Nis |




 

Bismillah..,
Segala pujian hanya milik Allah Ta'ala, Penggenggam alam semesta.

Entah sejak kapan,, percik angan dalam pikiran semaki
n menguat, mengalir bersama darah, menggerakkan daya menjadi nyata. Hhmmm…

--aku ingin, hidupku penuh warna—
--seperti kata bijak “kemarin adalah kenangan…” maka, yang kita lakukan hari ini akan berubah statusnya,,menjadi kenangan kala esok menjelang—


Saat itu, akhirnya aku menyelesaikan masa belajarku di bangku SMP, di penghujung kelulusan. Ibu sudah duduk di ruang kelas bersama para orangtua murid lainnya, untuk mengambil nilai hasil belajar selama 3 tahun anaknya yang maniss ini –hehe.., sementara itu, saya dan teman2 menunggu di luar, dengan jantung yang jeduk2,, tak sabar ingin tahu hasil ujian yang seringkali menjadi pemicu stress anak2 sekolah. Beberapa saat kemudian pintu kelas pun berdecit, sontak kami pun segera berhambur menuju orangtua masing2. Hmmm sosok yang aku tunggu pun muncul, mamake inyong yg paling cantik dhewek, sambil berjalan beliau bersalaman dan berucap salam berpisah dengan salah seorang wali murid dari temanku juga. Aku masih berdiri tak jauh di depan beliau, menunggu. Pun pandangan beliau segera menemukanku, menatapku, terbit senyum indah di wajah sayu beliau. Ah, ku lihat jelas ada binar bangga di mata beliau, seolah berkata “Nak, alhamdulillah kamu lulus, nilaimu bagus, tidak sia2 cucuran keringat Bapakmu selama ini....” Clessss.....

 Nilai akhir-ku cukup memuaskan, bahagia masa itu rasanya tak lekang sampai sekarang, melihat ortu tersenyum bangga, rasanya..hhhmmmm mak klunyumm….. saatnya untuk bilang, ”SMA idaman...aku datang...”. Eitss,, rupanya tidak semudah itu sodara-sodara... Pada akhirnya keinginan itu harus terkuburr dualamm-duaalammm, sedalam cintaku padamu #halah. ‘why.?? Katanya nilaimu baguss?’


Hhmm masalah nilai sih saya yakin insyaAllah gak masalah. ‘Truzzz,,, masalahnya appa..???’  hmm apalah daya, niat ke SMA favorit terhalang restu mamah tercinta. Gak ada pilihan selain mengikut titah sang empunya surga di tapak kakinya. Masuk ke SMK favorit di wilayah Surakarta, SMK VISKA.

Masa2 SMP telah berakhir, malam itu adalah salah satu malam menuju dimulainya hari pertama-ku di sekolah baru. Di saat itu saya merenung, me-replay ulang kejadian2 yang telah berlalu. Semua terputar jelas di layar angan. Dan dari itu semua, kemudian muncul harapan2 dan do’a2 yang khusyu’ terucap dalam sanubari, teruntuk Sang Maha Peng-ijabah do’a. Satu diantaranya, “Ya Allah,, semoga nanti saya mendapatkan teman sebangku yang cerewet.. dan yang suka bercanda...” Alhamdulillah Allah mengabulkannya. Hhhmmm senangnya,, dikasih bonus pula, karena tak hanya satu orang teman aja yang cerewet dan suka bercanda, satu kelas orangnya gokil2 semuaa..!!


Hhmmm dimulailah perjalanan maniss masa remaja-ku...

Rutinitasku sebagai anak sekolah selama ini, entah mengapa hari itu terasa membosankan. Jadi teringat, masa2 SMP dulu. Yang kulakukan sehari-hari hanyalah bangun pagi, sarapan, berangkat. Sampai di sekolah kemudian duduk, mendengarkan guru memberikan penjelasan, mengerjakan tugas, jam setengah 2 bel pulang berbunyi, pulang deh.. sampai di rumah, ganti baju, makan, nonton tipi, dll. Tidak terlalu banyak yang dikerjakan di rumah, paling sering adalah berantem dengan kakak cowok.. #kangen juga masa2 itu.

Pernah suatu ketika, saat pulang sekolah. Seperti biasa, berdiri di emperan toko pinggir jalan di sekitar pasar Delanggu, menunggu jemputan #bis kota_red. Hmmm lama sekali bis-nya gak lewat2. Rasanya aku juga belum pengen pulang. Maleeesss banget mau pulang. Dalam suasana seperti itulah, dalam hati-ku berdo’a, “Ya Allah, semoga nanti pas SMA jaraknya jauuuuh banget dari rumah, biyar pulangnya sore2 aja ya Allah...”. Dan, Allah memberikannya untukku,,, Alhamdulillah...


Itu lah, rutinitas anak sekolahan masa SMP menyadarkanku tentang hidup di dunia yang hanya sebentar. Tentang apa yang kita lakukan masa sekarang akan kita kenang kelak di kemudian hari. Lalu terbesit ingin,, kelak aku ingin merasakan bahagia, merasa bangga, dan tersenyum saat aku mengenang masa2 sekarang yang besok sudah akan menjadi kenangan. So, hasil putusannya;
-    Aku ingin membuat kenangan2 manis yang nantinya membuatku tersenyum saat mengenangnya.
-          Aku tidak ingin hidup dalam rutinitas yang membosankan.
-          Hidup harus berwarna.
-          Tentunya semua dalam hal yang positif.

Tindak lanjut dari putusan tersebut di atas adalah, semuuuuuaaaa kegiatan di sekolah (SMK) kuikuti. Dari ROHIS, OSIS, PMR, PASPRAMSUS (Pasukan Pramuka Khusus), ternyata ada satu yang tidak ku ikuti, yaitu pencak silat. Semua kegiatan itu benar2 menyenangkan. Banyak teman, banyak ilmu didapatkan, dan tentunya kenangan2 dan pengalaman luarrbiaasa. Membuatku betah di sekolahan. Kalau bisa nginep di sekolah, aku nginep deh. Hhhmmm saking semangatnya mengikuti kegiatan2 itu, suatu hari saat halaqoh ROHIS, seorang murobbi mendekatiku, katanya, “dek, kamu halaqohnya mbak Dwi bukan.? (saya senyum mengangguk). Begini dek, mbak gak bermaksud melarangmu mencari ilmu. Tapi,, alangkah bagusnya kalo ikut halaqoh itu cukup satu aja, biyar kamunya gak bingung.” Kataku,”Gak bingung kok mbak... #hehehe.

Kenakalan2 lucu kadang juga bermunculan. Hari itu adalah jadwal -les mengetik-, pengajarnya adalah Bu Hartini, yang entah sejak kapan teman2ku menobatkannya menjadi Ibuk’ku. Kami para murid sudah menempati meja ketik masing2. Bu Hartini masuk ke kelas. Masih berdiri di depan meja guru di depan, pandangan beliau menyapu ke seluruh isi ruangan. Dengan nada agak garang, “Manis mana manis,? Masuk nggak.?” Saya segera menyahut, “Saya Bu”. Tepat pandangan beliau menemukanku. “ora rapat OSIS nis?”, saya sambil mEsem,”mboten Bu...,, #Hehehe. Beliau melanjutkan, “koe ngko suwe2 tak lebokne mesin ketik nek mbolos wae lho..!” hahahaha gemuruh seisi ruangan tertawa. Aku hanya mEsem ngguyu... #hehehe. Sebab dari kejadian itu; saya sering mbolos les dikarenakan bentrok dengan rapat OSIS tiap minggu nya. Ah, Bu Hartini baik. Beliau obyektif dalam memberikan nilai ujian, dan aku pun dapat nilai A. Alhamdulillah.

Kog udah puanjang bangett ini ceritanya, intinya apa.??? Mari bersama kita simpulkan;
-          Selepas SMP, saya mempunyai satu sekolah idaman yang sangat saya pengeeeennn bangett. Pada akhirnya, Allah menakdirkan lain. Saya sempat merenung mengenai ini, seandainya saya belajar di sekolah yang saya inginkan dulu, mungkin ceritanya tidak akan se-seru ini, tidak akan se-gokil ini, tidak akan se-indah ini. Kembali ayat itu mengingatkan; “apa yang kamu kira baik, belum tentu baik di mata Allah... sesungguhnya Allah lebih mengetahui..” So, tanamkan dalam hati, untuk selalu berkhusnudzon, positif thinking terhadap segala ketentuan Allah. Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, daripada apa yang kita inginkan.


-    Setiap langkah kehidupan manusia selalu diliputi berbagai macam pilihan. Salah satunya adalah pilihan bagaimana kita akan menjalani kehidupan ini. Sudahkah kamu menentukan pilihanmu.??

-       Ah, manis sungguh masa2 itu. Setiap mengenang, rasanya ingin kembali ke masa2 itu untuk mengulangnya kembali. Semua adalah karunia dari Allah Ta’ala. Jangan lupa setidaknya untuk mengucapkan “Alhamdulillahirobbil ‘alamiin’. Ingat selalu kata2 dalam QS.Ar-Rahman; “Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan”



 Akhiru da'wana alhamdulillahirobbil'alamiin..
Semoga bermanfaat... :)


-----Bekasi, 4 April 2014----
Ashar

Rabu, 27 November 2013

Obsesi Tujuh Abad_jcpp

Posted by Nis |

Bismillah..,
Puja dan puji syukur kehadirat Allah Ta’ala...

Segelas susu panas, dan kue brownis... Alahmdulillah... Kombinasi yang cukup luar biasa di sore nan Fithri ini, menjadi teman yang mantapp untuk saya kembali berbagi dengan antum semuanya.
Masih dari buku ber-tajuk “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah.

----------
Kekuatan Bening

Bukan kita yang memilih takdir
Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin
bagi seorang pemanah
Kita selalu harus mencoba
untuk membidik dan melesatkannya
di saat yang paling tepat

-Shalahuddin Al Ayyubi-


Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.


Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri. “Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya, “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”
Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.
“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an melebihi sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al-Qur’annya, silakan duduk!”
Kali ini lebih banyak yang menangis  sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”
Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaamul Bidh, silakan duduk!”
Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

------------------------
Ah...meleleh.... hhmmm malunya...
Bagaimana akan ikut menjadi salah satu yang duduk di sana..
Al-qur'an...shalatku.... puasaku....
Hiks...
-----------------------
++++++Telat posting...
:D



----- Hotel Ibis, Yogyakarta -----
ashar 

Nurani Menyelamatkan Ummat

Posted by Nis |

Bismillah.,
Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah Ta’ala.

Idul Fitri.. Hhmmmm tiada kata lebih indah hari ini selain “Alhamdulillah,. Kembali Kau pertemukan lagi hamba-Mu ini dengan hari Raya Idul Fitri di tahun ini, 1434 Hijriah,. Dan semoga Kau beri kesempatan lagi untuk-ku bertemu kembali dengan Idul Fitri tahun depan, dalam segala hal yang lebih baik dari saat ini... amiiin.”

Dan.... saatnya mengucapkan.. “taqobalallahu minna wa minkum.., syiyamana wa syiyamakum..” Semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita semua..



--------------
Di hari ini, saya tidak akan membahas sesuatu hal yang terkait dengan Idul Fitri. Saya tertarik untuk membagi sebuah tulisan, dari sebuah buku, karya seorang penulis sekaligus ustadz favorit saya.. Ustadz Salim A. Fillah.. yang bertajuk “Jalan Cinta Para Pejuang”.

Kali ini, pada Bab-nya yang berjudul ‘Bertanya Pada Hati’, di point Nurani Menyelamatkan Ummat. Silahkan disimak...


----------------
Nurani Menyelamatkan Ummat

Bagaimana rasanya menjadi orang yang paling bisa mengerti sahabat tercinta? Tentu indah. Kita menjadi yang pertama-tama menangkap kilasan cahaya gembiranya, lalu menjadikan hati kita lensa konkaf untuk menebarkannya. Atau kita juga segera menangkap tebaran masalah yang menggayuti benaknya, lalu menjadi lensa konveks untuk memberinya fokus dan orientasi. Dan di sebalik lensa itu, kita juga yang pertama-tama akan menangkap bayangan nyata dari kesemuan-kesemuan tentangnya. Seringkali, itu membuat kita menangis terlebih dahulu. Bahkan menangis sendirian. Abu Bakr Ash Shiddiq pernah merasakannya.

via: http://gunawanyudihandoko.blogspot.co.id/2013_11_01_archive.html


Ketika itu, Sang Nabi menerima wahyu. Wahyu yang sangat menggembirakan semua shahabat. Beliau membacakannya dari atas mimbar. “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. sesungguhnya Ia adalah Maha Penerima Taubat.”

Semua shahabat tersenyum, lega, bahagia, dan penuh syukur. Tapi dari depan mimbar, Abu Bakr tiba-tiba berteriak dengan gemuruh isak, “Ya Rasulallah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku!” Dan ia terus menangis. Para shahabat belum pernah heran akan Abu Bakr sedahsyat hari itu. Mereka menatap tajam ke arahnya dengan mulut yang tanpa disadari setengah terbuka. Tapi Rasulullah tersenyum padanya.

“Seorang hamba diminta untuk memilih”. Beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan sabda, “Antara perhiasan dunia menurut kehendaknya, atau apa yang ada di sisi Allah. Dan dia memilih apa yang ada di sisi Allah.” Tangis Abu Bakr semakin keras, terdengar menggigil bagai burung dalam badai, menyesakkan. “Demi Allah Ya Rasulallah, ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.!”, ia kembali berteriak. Hingga kata perawi hadits ini, orang-orang bergumam dalam hati, “Lihatlah orang tua ini! Rasulullah mengabarkan tentang kemenangan dan seorang hamba yang diberi pilihan, tapi dia berteriak-teriak tak karuan!”

Entah mengapa, hari itu kebeningan hanya menjadi milik Abu Bakr seorang. Ketika para shahabat bergembira mendengar sabda-sabda Sang Nabi, ia menangkap Surat An Nashr dan segala yang beliau katakan sebagai satu isyarat pasti. Ajal sang Nabi telah sangat dekat! Maka ia menangis. Maka ia berteriak. Hanya dia. Hanya dia yang mengerti.

Cinta Nabi.   via: https://aimiftah.wordpress.com

Rasulullah masih tersenyum. “Sesungguhnya orang yang paling banyak membela dan melindungiku dengan pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakr”, kata beliau. “Andai aku boleh mengambil kekasih selain Rabbku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakr sebagai Khaliil-ku. Tetapi ini adalah persaudaraan Islam dan kasih sayang. Semua pintu yang menuju ke Masjid harus ditutup, kecuali pintunya Abu Bakr.” 

Abu Bakr adalah orang dengan nurani yang begitu jernih, begitu suci. Dia yang paling berduka, menangis, dan histeris ketika Sang Nabi memberi isyarat tentang dekatnya saat berpisah. Namun, di saat kekasih yang dicintainya itu benar-benar pergi, Abu Bakr menjadi orang yang paling waras, paling tenang, dan paling menenteramkan. Di jalan cinta para pejuang, Abu Bakr menyelamatkan kaum muslimin dari keterguncangan massal yang bisa berakibat fatal.

“Tiada hari yang lebih bercahaya di Madinah”, kata Anas ibn Malik, “Daripada hari ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam datang kepada kami. Dan tidak ada hari yang lebih gelap dan muram daripada saat beliau wafat.” Hari itu isak dan sedu menyatu. Tangis dan ratap berbaur. Air mata bergabung dengan keringat dan cairan hidung. Dan seorang lelaki berteriak-teriak, membuat suasana makin kalut.

“Sesungguhnya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulullah meninggal dunia!”, kata sosok tinggi besar itu. Banyak orang berhimpun di sekelilingnya hingga yang di belakang harus berjinjit untuk mengenali bahwa si gaduh itu adalah ‘Umar ibn Al Khatthab. “Sesungguhnya beliau tidak wafat!”, ia terus berteriak dengan mata merah berkaca-kaca dan berjalan hilir mudik ke sini ke sana. “Sesungguhnya beliau tidak mati! Beliau hanya pergi menemui Rabb-nya seperti Musa yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi pada mereka setelah dikira mati! Demi Allah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti akan kembali! Maka tangan dan kaki siapapun yang mengatakan beliau telah meninggal harus dipotong!”

Ilustrasi Umar muntab.    
via: http://oasemuslim.com/ketika-khalifah-umar-bin-khattab-menghadapi-ajalnya/

‘Umar masih terus berteriak-teriak bahkan menghunus pedang ketika Abu Bakr datang dan masuk ke bilik ‘Aisyah, tempat di mana jasad Sang Nabi terbaring. Disibaknya kain berwarna hitam yang menyelubungi tubuh suci itu, dipeluknya Sang Nabi dengan tangis. “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu...”, bisiknya. “Allah tidak akan menghimpun dua kematian bagimu. Kalau ini sudah ditetapkan, engkau memang telah meninggal.” Abu Bakr mencium kening Sang Nabi. “Alangkah wanginya engkau di kala hidup, alangkah wangi pula engkau di saat wafat.”

‘Umar masih mengayun-ayunkan pedang ketika dia keluar. “..kaki dan tangannya harus dipotong! Dipotong!”, teriak ‘Umar.

“Duduklah hai ‘Umar!”, seru Abu Bakr. Tapi ‘Umar yang bagai kesurupan tak juga duduk. Orang-orang, dengan kesadaran penuh mulai mendekati Abu Bakr dan meninggalkan ‘Umar. “Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat”, katanya berwibawa, “Tapi barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup kekal!” Abu Bakr lalu membaca ayat yang dibaca Mush’ab ibn ‘Umair menjelang syahidnya, saat tubuhnya yang menghela panji Uhud dibelah-belah dan tersiah kabar bahwa Rasulullah terbunuh.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia mati atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang? Dan barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali ‘Imran [3]: 144)

‘Umar jatuh terduduk mendengar ayat ini. Pedangnya lepas berdentang dari genggaman. Dengan gumaman diselingi isak, disimak dan dilafalkannya ayat yang dibaca Abu Bakr. Demikian juga yang lain. Mereka semua membaca ayat itu. Seolah-olah ayat itu baru saja turun. Seolah-olah mereka tak pernah mendengar ayat ini sebelum Abu Bakr membacakannya. Entah mengapa, sekali lagi, kebeningan hanya menjadi milik Abu Bakr seorang pada hari itu.

Maka inilah Abu Bakr. Seorang yang mata batinnya begitu jernih. Dia yang paling berduka, menangis, dan histeris ketika Sang Nabi memberi isyarat tentang dekatnya saat berpisah. Namun, di saat kekasih yang dicintainya itu benar-benar pergi, Abu Bakr menjadi orang yang paling waras, paling tenang, dan paling menenteramkan. Di jalan cinta para pejuang, Abu Bakr menyelamatkan kaum muslimin dari keterguncangan massal yang bisa berakibat fatal.


Love Rasulullah.    via: https://www.pzhgenggong.or.id/tag/sholawat



--------------------------------------------

===Late post
:D








-------Revisi Jakarta, 26 Januari 2017-------
menanti magrib

Minggu, 21 Juli 2013

Dulan-dulan*Bekasi

Posted by Nis |

Bismillah...
Puji syukurr selalu kepada Allah Ta'ala...


Hhmmm beberapa lama nyasar di Bekasi,, banyak hal sudah terlalui. Apa saja yang sudah saya lakukan.? Ini dia, kebiasaan mbolang saat di Jogja kebawa-lah...


First picture.... Pertama kali diajak ke mall di daerah Bekasi
#perjalanan 3 jam... hhhmmmm ckckckc



Hhhmmm.... ke Kampus pake'nya sendal... Maenn pake' sepatu...
#Like this...  :D




Pepohonan rimbun,. sungai jernih mengalir,. hamparan padi menguning.... indah..




Bikers yang baik,,. pakai helm dong..





Suka... moment-nya.....





Lagi ngumpet,.. sssssstttttttttttt...!





Pernah naik perahu,..???? Saya sudah pernahh............. :D
#sarana penyebrangan di sungai Citarum.





Sungai Citarum lagi penuhh....





Memandang Citarum dari dalam perahu....





Ehhemmm,... :D





Lagi musim panen...,,





Sekutu-sekutu temen mbolang....





YYyyuii.....





Edit... Edit....





Edit lagi... Edit lagi....




Sudah puas maen2 di sawahnya... _jauh2 ke bekasi maenannya di sawah..? Cekaceka... He...sekarang adalah moment2 di PRJ *Pekan Raya Jakarta... Let's go...

Pengambilan gambarnya kurang passs... kepalanyoooo...???





Jadi ingat Riniwati.., "mbak kita ini kaya' mw nyebrang jalan ya.." :D





Bingung..??? Yang badut yang mana ya.??!





Yukk..,, action..!





Yak,,,, narsiserss...





-------





First time for me.... Acara konserr....





Takut ilang... anaknya...





Yeeee........... foto sama si pucuk,,pucuk,,pucuk,,pucuk,,pucuk....





Ada pantai juga.....




 Bukan karena mata Anda ngantuk... gambarnya memang buremm...





 Bawa bekal.... mari makann...................





 Para personil....





 Teman-teman baru.... Keluarga baru...........





"Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan..?"






Mohon maaf jikalau gambar2nya ber-efek buruk pada kesehatan Anda.. He... Pisss... :D
Sampai ketemu di dulan2 selanjutnya....




wassalam...



-----Bekasi, 21 July 2013-----
menunggu 'Ashar

Sabtu, 20 Juli 2013

Cinta lagi.., _karena Allah

Posted by Nis |

 

Rindu tak harus bertemu..,
Sayang tak harus bilang..,
Cinta tak harus selalu bersama..,
Sebelum halal, jarak dekat adalah ujian keimanan..,
Sedangkan jarak jauh adalah ujian kesabaran..,
Sesungguhnya cinta tak harus dihapus, sayang pun tak harus dibuang...

Ehhemmm... seorang pejuang tengah dirundung dilema. Jantung yang tiba-tiba berdetak tak beraturan kala berjumpa, pula hadir rasa rindu saat tak bertemu..


Wajar,......... Fithrah.... 

Lalu akan terbukti, saat harus memilih dia.. ataukah Dia... _dengan cara-mu..

Masalahnya hanya itu ituuu aja.., sudah tahu ilmu-nya, sudah paham hikmahnya, mengerti cara-caranya, tapi susaaaaaaaaaaaaaaaahhhh dalam prakteknya.

Begitulah... mudah diucapkan, dengan makna begitu duaalammm..


"Aku mencintaimu KARENA ALLAH.!"




Just remainder.,
Ayo-lah... Kita muda, kita le-o le-o, kita bisa..!!!
:D


semoga bermanfaat,
wa akhiru da'wana,. alhamdulillahirobbil'alamiin.


-----Bekasi, 20 July 2013-----
menjelang dzuhur

Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger