Senin, 16 April 2012

RUKUN IMAN part1

Posted by Nis |


PASAL PERTAMA
IMAN KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

Maknanya :
Makna iman kepada Allah Azza wa Jalla adalah :
‘meng-I’tikadkan diri secara benar-benar bahwa Allah itu Rabb dari segala sesuatu (yang ada), Dialah yang menguasainya (memilikinya) dan menciptakannya. Dan bahwa Dia adalah satu-satunya Zat yang berhak diibadahi, baik yang menyangkut shalat, puasa, berdo’a, berharap, takut, rendah diri, patuh, dan pasrah. Dan hanya Dia yang patut disifati dengan sifat-sifat yang Maha Sempurna dan suci dari segala kekurangan-kekurangan.

Macam-macam tauhid :
Beriman kepada Allah SWT harus mencakup seluruh wilayah tauhid-Nya yang terdiri dari tiga aspek, yaitu:
1.      TAUHID RUBUBIYYAH
Makna  secara ijmal (global) dari tauhid RUBUBIYYAH adalah pengi’tikadan diri secara bulat-bulat bahwa Allah SWT itu Rabb dari segala sesuatu, dan tidak ada Rabb selain Dia.
Penjelasannya, bahwa Rabb di dalam bahasa berarti yang memiliki dan yang mengatur... lihat “Al Misbahul Munir”. Yang dimaksudkan dengan Rububiyyah Allah terhadap makhluk-Nya adalah peng-Esaan Allah sebagai satu-satunya Zat yang menciptakan mereka, menguasai (memiliki) mereka, dan yang mengatur segala urusan mereka.
Atau dengan kata lain, tauhid rububiyyah itu adalah:
“Suatu pernyataan bahwa Dia itu Maha Suci, satu-satunya pencipta makhluk ini, penguasa dan pemilik makhluk semesta, yang menghidupkan dan mematikan mereka, pemberi manfaat dan mudharat kepada mereka. Dia pula yang menyambut do’a mereka ketika menghadapi kesulitan, Dialah yang berkuasa untuk memberi dan menolak permintaan mereka, dan hanya kepada-Nyalah segala urusan harus dikembalikan, sebagaimana Allah SWT berfirman tentang diri-Nya:
“...ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam”. (Al-A’raaf: 54)
Yang termasuk ke dalam tauhid jenis ini adalah beriman terhadap ketentuan (qadar) Allah SWT atau percaya bahwa setiap kejadian selalu bersumber dari ilmu Allah SWT, iradat-Nya, dan qadrat-Nya. (Lihat Syarah Akidah Thahawiyyah, halaman 16-17).
Al-Qur’an telah secara gemilang menerangkan perihal tauhid rububiyyah ini, dan penyebutannya hampir tak pernah terlewat dari setiap surat yang ada dalam Al-Qur’an, walau sekedar isyarat tentang adanya tauhid ini. Dan tauhid rububiyyah ini merupakan azas dari jenis tauhid yang lain, sebab Al-Khalik, Al-Malik, dan Al-Mudabbir hanyalah merupakan suatu yang patut bagi-Nya satu-satunya. Setelah pengi’tikadan terhadap sifat-sifatNya ini, akan diikuti oleh pengarahan niat untuk beribadah, khusyu’, dan khudluk (patuh) kepada-Nya.
Sebagai kesimpulan dari uraian-uraian di atas, bahwa Al-Qur’anul karim telah menyebutkan jenis tauhid rububiyyah ini dalam hal :
-Maqam “Pujian itu hanyalah untuk Allah”
-Ibadah segala niat dan maksud, hanya kepada-Nya
-Pengikatan keyakinan dan kepasrahan secara total hanya kepada-Nya
-Hanya Dia yang menyandang sifat-sifat yang Agung dan Asmaul Husna
Dalam hal pujian, setiap muslim mengamalkannya di setiap rakaat dari shalat-shalatnya, karena Surah Al-Fatihah ayat dua berarti “Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam”. Di dalam ayat yang lain disebutkan :
“Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam”. (QS. Al-Jaatsiyah 36)
Dalam hal kepasrahan (istislam) dan keyakinan kepada-Nya, Allah berfirman :
“...Kalataknlah : ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam”. (QS. Al-An’aam: 71)
Dalam hal mengarahkan niat dan maksud hanya kepada Allah, ayat berikut ini menerangkan :
“Katakanlah : ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam”. (QS. Al-An’aam: 162)
Dalam hal berwalikan Allah dan mengesampingkan perwalian-perwalian yang selain kepada-Nya, dapat dilihat dari firman-Nya berikut ini :
“Katakanlah : ‘Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan’? Katakanlah : ‘Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik”. (QS. Al-An’aam: 14)
Dalam hl berdo’a hanya kepada Allah, bisa kita perhatikan pada ayat berikut ini:
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah, Maha Suci Allah, Rabb semesta alam”.  (QS. Al-A’raaf: 154)
“Berdo’alah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-A’raaf: 55)
Masih menyangkut hal ibadah, di dalam ayat lain Allah berfirman:
“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit-langit sebagai atas, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui”. (QS. Al-baqarah: 21-22)
Maka sesungguhnya Dia itu pencipta langit dan bumi serta segala apa yang terkandung di dalamnya. Dia adalah satu-satunya yang berhak dijadikan pelindung oleh hamba-Nya, dan satu-satunya tempat hamba menyerahkan jiwanya, mengarahkan do’anya, serta meluruskan niatnya.

2.      TAUHID ULUHIYYAH
Makna secara ijmali (global) dari tauhid ini adalah : Pengi’tikadan diri secara bulat-bulat bahwa Allah SWT adalah ilahul-Haqq (yang berhak diibadahi) dan tidak ada illah selain-Nya. Jadi dengan kata lain meng-EsakanNya dalam ibadah.
Penjelasannya, arti kata illah adalah al-ma’luh atau al-ma’buudat yaitu Zat yang wajib diibadahi... (lihat Thariqul Wushul ilal ‘ilmil ma’muul, halaman 12).
Sedangkan pengertian ibadah secara bahasa adalah menetapkan keyakinan dengan rendah diri dan kepatuhan total. Sebagian ulama mendefinisikan ibadah dengan ungkapan: “Bahwa kesempurnaan cinta selalu disertai oleh kesempurnaan kepatuhan”. (Lihat syarah Qasidah Ibnul Qayyim, juz II halaman 259)
Makna tauhid uluhiyyah itu jelas-jelas dibangun di atas prinsip “Ibadah secara ikhlas kepada Allah satu-satunya”, baik dalam bathinnya maupun lahirnya, dengan ketentuan tidak menjadikan sesuatu ibadah untuk tujuan yang selain Allah SWT. Oleh karena itu beriman kepada Allah harus direalisasikan dengan mengabdi kepada Allah satu-satunya dan tidak menyembah yang selain-Nya, ikhlas untuk bercinta hanya kepada Allah saja, hanya merasa takut kepada-Nya, senantiasa berharap dan berdo’a kepada-Nya, bertawakkal, taat, rendah diri, patuh, dan banyak lagi jenis serta ragam ibadah lainnya.
Dari sinilah lahirnya Syahadah (sebuah kesaksian) bahwa:
“TIDAK ADA ILLAH KECUALI ALLAH”,
Yangmana kesaksian ini telah mencakup segala jenis tauhid yang tiga itu. Artinya, dengan bersaksi demikian otomatis juga bersaksi terhadap tauhid rububiyyah-Nya dan tauhid Asma dan sifat-sifat-Nya.
Berkata ibnu thaimiyah:
“Tauhid inilah (uluhiyyah) yang membedakan antara orang-orang yang bertauhid (murni) dengan orang-orang musyrik, dan atasnya ditimpakan balasan dan pahala, baik pada waktu permulaannya maupun detik terakhirnya. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi kriteria tauhid uluhiyyah, maka dia itu termasuk dalam golongan orang-orang musyrik”. (Risalah Hasanah was Sayyi’ah, Ibnu Taimiyyah, halaman 261)
Jika tauhid uluhiyyah ini merupakan hakikat dienul Islam maka dua kalimat syahadat merupakan gerbang dari rukun-rukun Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Islam itu dibangun di atas lima dasar: Kesaksian bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan kesaksian bahwa Muhammad itu rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan pergi hajji”. (HR Bukhari Muslim)
Konsekuensi-konsekuensi Tauhid Uluhiyyah:
a.       Kewajiban ikhlas untuk bermahabah hanya kepada Allah SWT.
Dan tidaklah patut seorang hamba itu mengambil tandingan bagi Allah dalam kecintaan, sehingga dia mempunyai kadar cinta yang sama dengan yang selain-Nya, atau justru lebih mengutamakan cintanya kepada yang selain-Nya itu dibanding kepada Allah SWT. Barangsiapa melakukan hal semacam ini maka dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
b.       Kewajiban meng-Esakan (memfokuskan tujuan kepada) Allah dalam hal berdo’a, berharap, bertawakkal, dll.
Seorang hamba harus memfokuskan do’a-do’anya, harapannya dan lainnya, hanya kepada Allah SWT, karena hanya Dialah yang mampu dan kuasa untuk menerima semua itu.
c.       Wajib memfokuskan tujuan (satu-satunya) kepada Allah disertai rasa takut (dari siksanya).
Jika seseorang meyakini bahwa mudharat itu juga bisa datang karena yang selain-nya (karena makhluk-makhluk), atas kehendak dan kekuasaan makhluk tersebut, sehingga dia merasa takut kepadanya, maka dengan sikapnya ini telah jatuhlah dia kepada syirik mensekutukan Allah). Perlu difahami bahwa takut dalam artian ibadah berbeda dengan takut dalam artian fitrah. Takut dalam artian ibadah hanya sah (dibenarkan) kepada Allah SWT saja, dan maknanya manusia meyakini bahwa datangnya mudharat itu hanya atas kehendak dan kekuasaan Allah semata, sedangkan yang selain-Nya tidak akan mampu memberikan mudharat sedikitpun terhadap sesama makhluk. Adapun jenis takut secara fitrah, salah satu contohnya adalah takut kepada binatang buas.
d.       Wajib memfokuskan tujuan satu-satunya kepada Allah dalam berbagai jenis ibadah badaniyah.
Contoh-contoh dari kewajiban jenis ini adalah dalam hal memfokuskan tujuan shalat, ruku’, sujud, shaum, penyembelihan hewan korban, thawaf, dan berbagai ibadah qauliyah (ucapan) seperti nadzar, istighfar, dll.
Seluruh jenis ibadah di atas dan juga jenis lainnya yang tidak dicantumkan, wajib ditujukan hanya kepada Allah dan ikhlas karena-Nya. Barangsiapa yang menyimpang dari ketentuan itu (ibadahnya tidak ditujukan kepada Allah), maka dia telah syirik.
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (An-Nisaa’: 116)

3.      TAUHID ASMA’ WA SIFAT
Makna secara ijmali (global) dari tauhid asma dan sifat ini adalah “Peng-i’tikadan diri secara bulat-bulat bahwa Allah SWT patut menyandang sifat-sifat kesempurnaan, bersih serta suci dari sifat-sifat kekurangan/kelemahan, bahwa Dia adalah satu-satunya yang patut menyandang sifat-sifat kesempurnaan tersebut.
Asas (dasar) dari tauhid asma dan sifat:
Pertama; Mensucikan dan meninggikan Allah dari hal yang menserupakan-Nya dengan makhluk, atau dari suatu kekurangan.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”. (Asy-Syura: 11)
Termasuk dalam tauhid ini adalah peng-I’tikadan bulat-bulat untuk mengakui bahwa Allah SWT memerintahkan agar mensucikan-Nya, Dia bersih dari beristeri, bersekutu, tidak ada bandingan kesamaan, tidak ada syafaat (tanpa izin Allah), dan bersih berlindung dari kerendahan. Allah SWT juga bersih dan tidak memerlukan tidur, tidak mengantuk, capik/lelah, mati, bodoh, zalim, lupa, lalai, dan lain-lain sifat yang merupakan sifat-sifat kekurangan.
Asas Kedua: yaitu memenuhi kewajiban untuk menerima ketetapan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an atau sunnah.
Pemenuhan kewajiban ini dikaitkan dengan metod pendengaran, bukan dengan akal pikiran atau pendapat akal. Oleh karena itu janganlah sekali-kali mensifati / memberi nama-nama Allah kecuali dengan sifat-sifat dan nama-nama yang telah ia berikan sendiri atau dengan sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW kepada-Nya, sebab Aooay ‘Azza wa Jalla lebih mengetahui tentang diri-Nya sendiri, sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya, daripada hamba-Nya.
Asas Ketiga; yaitu dituntuk bagi mukmin (hamba) yang mukallag untuk mengimani sifat-sifat dan asma-asma yang nash-nashnya jelas tertera di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, tanpa perlu membahas atau mempersoalkan visualisasinya.
“Hal menyamakan itu dapat dimaklumi, sedang memvisualisasikan termasuk tindakan kebodohan. Mengimani yang demikian itu wajib, sedangkan menanyakan hal visual-Nya adalah bid’ah”. (Lihat Ar-Raudhatun Nadiyyah, halaman 29)
Para Ulama Salaf sepakat, bahwa pemvisualisasian sifat-sifat Allah tidak dapat dimaklumi, sedangkan menanyakan hal tersebut termasuk tindakan bid’ah.
w       Kapan Tauhid Asma dan Sifat Menjadi Cacat
a.      At-Tasybih (menyerupakan)
Yang dimaksud disini adalah menyerupakan sifat-sifat Khaliq dengan sifat-sifat makhluk-Nya, seperti halnya kaum Nashara menyerupakan Al Masih bin Maryam dengan Allah SWT; atau kaum Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah; atau kaum musyrikin yang menyerupakan patung-patung dengan Allah; atau seperti yang terjadi pada golongan Thawa’if yang menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk, Yadullah dengan tangan makhluk, pendengaran Allah dengan pendengaran makhluk dan lain-lain hal sejenisnya. (Ar-Raudhatun Nadiyyah, halaman 35)
b.      Membelokkan makna dengan takwil (tafsir bebas), atau merubah, atau mengganti dengan pengertian lain.
Contohnya dengan menasabkan lafadh Jalalah, untuk menafikkan (menyingkirkan) sifat Al-Kalam dari-Nya Allah SWT. Adapun jalan terdekat untuk menuju keselamatan di dalam masalah sifat ini, manhaj salaf melakukannya dengan menetapkan apa-apa yang telah ditetapkan Allah untuk diri-nya. Tidak melakukan takwil (tafsir bebas) apalagi yang secara sempit, dan tidak menyerupakan sesuatu yang tidak layak dengan keagungan Allah serta ke-Esaan-Nya.
c.       At-Ta’thiil (pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah)
Yang dimaksud adalah pengingkaran terhadap sifat-sifat ilahiyyah, yakni pengingkaran terhada kedudukan sifat itu dari Zat Allah SWT, seperti mengingkari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung dari kesempurnaan dan kesucian-Nya, dan yang demikian itu berarti menyangkal asma-nya dan sifat-Nya.
d.      At-Talyiif (penggambaran secara visual)
yang dimaksud disini adalah memvisualisasikan sifat-sifat Allah dan membuat (menetapkan) kiasannya.
w       Jenis-jenis Sifat Allah SWT
Menurut Al-Kitab dan As-Sunnah, ada dua jenis sifat Allah yakni sifat dzatiyah dan sifat fi’il, (sebagaimana disebutkan dalam Al-Asilah wal Ajwibah, halaman 48)
Yang menyangkut sifat dzatiyah adalah sifat-sifat yang tidak pernah terlepas dari sisi Allah SWT, seperti Nafs(jiwa), ilmu, hayah(hidup), wajah, kalam, qidam, malik, ‘idhomah, kibriya’, ‘ulwun, ghinaa, rahmah, dan hikmah. Dan sebagai penguatnya, sifat-sifat ini lazim bagi Allah SWT, sudah pasti berada dalam diri-Nya, dan tidak bisa terpisahkan dari-Nya.
Adapun sifat fi’il adalah sifat-sifat yang menyangkut kehendak Allah dan kekuasaan-nya, seperti: istiwa’, nuzul(turun), ta’jub, tertawa, ridha, cinta, tidak suka, benci, gembira, marah, makar, tipu daya, dan lain-lain.
“Hai Abu Mundzir, tahukah anda satu ayat dari Kitabullah yang agung nilainya bagi Anda’? Dia berkata: ‘Aku pikir Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui mengenai hal itu’.
Pertanyaan itu diulang kembali oleh Rasulullah, kemudian Abu Mundzir menjawab: ‘Allah tidak ada ilah melainkan Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)’. Ia pun berkata lagi: ‘Beliau menepuk dadaku, seraya berkata: “Demi Allah, Dia pasti memberi kemudahan ilmu bagimu hai Abu Mundzir”. 
(Shahih Muslim Syarah Nawawi, jilid VI halaman 93)



YANG MENGUATKAN
YANG MEMBATALKAN IMAN
KAJIAN RINCI DUA KALIMAH SYAHADAH
Dr. Muhammad Na’im Yasin

Kamis, 12 April 2012

Cinta Suci 'Ali dan Fatimah Az Zahra

Posted by Nis |

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,

namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah.

Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?

Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab.

Ya, Al Faruq,

sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,

”Aku datang bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.

”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.

Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”,

Kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi.

Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”

Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.

Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar kamu tidak mengerti, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati.

Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.

Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku?
dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”
(kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Rabu, 18 Januari 2012

Kisah Berhikmah

Posted by Nis |

Bismillah,.
Gak biasanya buka blog sendiri,. dan kebetulan tanpa disengaja membaca sebuah cerita yang cukup ampuh membuat airmataku meleleh..
Mungkin kamu-kamu juga akan tersentuh hatinya ketika membaca kisah ini.,


AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri limapuluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.


"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batubata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen danpasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Iaterluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiapwaktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidakmau mendengar kamisebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"



Bagaimana sodara-sodara.? Asyik bukan, ceritanya...
mari kita ambil hikmah dibalik kisah di atas.

Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger